BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR
BELAKANG MASALAH
Dalam
rangka pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) jurusan Bimbingan dan
Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pancasakti Tegal,
tahun akademik 2012, serta untuk memperluas cakrawala pengetahuan dan
pengalaman mahasiswa tentang keterampilan konseling. Keterampilan konseling merupakan salah satu aspek
penting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses konseling. Dengan
demikian, penguasann konselor terhadap keterampilan – keterampilan tersebut
merupakan jembatan menuju terbangunnya hubungan interpersonal efektif yang
diharapkan berujung pada terfasilitasinya perkembangan konseli secara maksimal.
Maka perlu diselenggarakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).
1.2
TUJUAN KKL
Tujuan dari
kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Progdi Bimbingan dan Konseling Universitas
Pancasakti Tegal tahun 2012 antara lain :
1. Meningkatkan pengetahuan praktis dalam
disiplin ilmu yang dipelajari sehingga dapat lebih memahami serta
mengaplikasikan antara teori dan praktek.
2. Member gambaran secara aplikasi mengenai
materi layanan Bimbingan dan Konseling.
3. Menambah pengetahuan, pengalaman, wawasan
mahasiswa dalam bidang Bimbingan dan Konseling.
4. Member bekal nyata kepada mahasiwa agar lebih
menghayati masalah yang komplek yang dihadapi oleh masyarakat dalam pembangunan
dan belajar menanggulangi masalah – masalah tersebut secara pragmatis dan
interdisipliner.
5. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa agar
menjadi inovator, motivator, dan problem solver dalam menyikapi setiap
permasalahan baik dalam masyarakat ataupun lingkungan kerja.
1.3
MANFAAT KKL
Hasil kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL)
Progdi Bimbingan dan Konseling 2012 diharapkan mempunyai kegunaan baik antara
lain :
a. Bagi Mahasiswa
1) Memudahkan mahasiswa dalam mengembangkan
keterampilan berpikir dan memecahkan masalah.
2) Memudahkan mahasiswa dalam penguasaan dan
pendalaman serta pengaplikasian konsep layanan Bimbingan dan Konseling.
3) Menjadikan mahasiswa lebih aktif dalam
mempelajari konsep- konsep terapan layanan Bimbingan dan Konseling yang dapat
dimanfaatkan pada kehidupan sehari – hari.
4) Mendapatkan pengetahuan baru tentang layanan
unggulan Bimbingan dan Konseling yang dapat di terapkan di masyarakat.
5) Mendapatkan tambahan materi layanan Bimbingan
dan Konseling yang dilakukan di obyek KKL.
6) Mahasiswa dapat mengetahu perkembangan FIP
IKIP PGRI BALI.
b. Bagi Progdi
1) Sebagai
bahan pembanding untuk lebih maju dalam hal sarana dan prasarana khususya Prodi
Bimbngan dan Konseling.
2) Menambah
wawasan dalam meningkatkan pengelolaan peningkatan pelayanan kepada mahasiswa
c. Bagi Fakultas
1) Bahan pertimbangan / masukan dalam memajukan
fakultas baik baik itu peningkatan mutu dalam bidang akademis maupun
non-akademis.
2) Untuk menambah wawasan dalam pengelolaan
kelembagaan fakultas, terutama dalam peningkatan kualitas pelayanan kepada
mahasiswa dan penigkatan kualitas proses belajar mengajar.
d. Bagi Universitas
Dari kegiatan Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) Progdi Bimbingan dan Konseling 2012 dapat meningkatkan
kerjasama yang baik antara pihak Universitas dan FIP FKIP PGRI BALI yang
dijadikan obyek KKL.
BAB II
PELAKSANAAN KKL
2.1 WAKTU DAN
TEMPAT PELAKSANAAN
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Progdi
Bimbingan dan Konseling Universitas Pancasakti Tegal yang telah dilaksanakan
pada :
Hari : Selasa
Tanggal :
21 Februari 2012
Objek :
FIP FKIP PGRI BALI, Progdi Bimbingan dan Konseling
2.2 TEORI –
TEORI KKL
Mahasiswa memiliki peran yang besar
dalam proses pembangunan bangsa ini. Sebagai Agen Of Change, Mahasiswa berperan
untuk melakukan perubahan – perubahan yang dianggap perlu untuk mencapai
kemajuan. Perubahan – perubahan itu sendiri dapat di bidang politik, ekonomi,
sosial dan budaya sesuai dengan kebutuhan bangsa. Terkait dengan hal tersebut,
mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan nyata yang dapat diterapkan dalam
pembangunan. Hanya dengan belajar di bangku kuliah tidak cukup untuk membekali
mahasiswa agar memiliki kemampuan yang memadai. Perlu adanya praktek secara
nyata sebagai pengalaman yang aplikatif.
Untuk membangun kemampuan praktik tersebut,
maka mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman kerja secara langsung. Sehingga
dengan alas an tersebut kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dilaksanakan.
IKIP PGRI BALI dipilih sebagai tempat
melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) karena status untuk jurusan Bimbingan dan
Konseling terakreditasi B. sebagai perguruan tinggi di Denpasar Bali yang
terletak di pulau dewata yang memang terknal dengan macam – macam budaya dan
adat istiadat, maka di IKIP PGRI BALI ini khususnya untuk jurusan Bimbingan dan
Konseling sudahmenerapkan konseling lintas budaya dan sudah menjadi unggulan di
IKIP PGRI BALI sendiri.
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini
dilakukan dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan
Universitas Pancasakti Tegal khususnya Progdi Bimbingan dan Konseling sebagai salah
satu universitas yang ada di kota Tegal. Perbandingan yang diperoleh dari aspek
pendidikan, proses belajar – mengajar, ketersediaan sarana dan prasarana, serta
keorganisasian dalam kelembagaan IKIP PGRI BALI.
Dari hasil Kuliah Kerja Lapangan (KKL)
yang telah dilakukan, diharapkan memperoleh banyak masukan yang diterapkan di
Universitas Pancasakti Tegal khususnya pada Progdi Bimbingan dan Konseling.
Sehingga dapat memajukan dan meningkatkan kualitas di Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Pancasakti Tegal khususnya Progdi Bimbingan dan
Konseling.
2.3 METODE
PENGUMPULAN DATA
1. Metode Wawancara
Metode interview adalah metode
wawancara suatu proses pembicaraan dalam situasi komunikasi langsung. Metode
interview merupakan cara, yang dilakukan untuk mencapatkan keterangan secara
lisan yang dilakukan dengan berhadapan secara langsung melalui percakapan.
Metode interview mempunyai keuntungan
dan kelemahan.
a. Keuntungan
1. Dapat dilaksanakan secara langsung kepada
responden sehingga data yang diperoleh benar – benar data yang obyektif.
2. Dapat untuk memperbaiki hasil riset yang
dilakukan.
3. Pelaksanaan interview lebih fleksibel dan
dinamis.
b. Kelemahan
1. Memerlukan
waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar
2. Sangat
tergantung pada individu yang akan diwawancarai
3. Situasi
wawancara mudah dipengaruhi lingkungan sekitar
4. Menuntut
penguasaan keterampilan bahasa yang baik dari interviewer
5. Adanya
pengaruh subyektif pewawancara yang dapat mempengaruhi hasil wawancara
6. Adanya
pengaruh subjektifitas dari interviewer terhadap hasil wawancara
2. Metode
Observasi
Observasi
adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung
terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan
secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati. Banyaknya periode
observasi yang perlu dilakukan dan panjangnya waktu pada setiap periode
observasi tergantung kepada jenis data yang dikumpulkan. Apabila observasi itu
akan dilakukan pada sejumlah orang, dan hasil observasi itu akan
digunakan untuk mengadakan perbandingan antar orang-orang tersebut, maka
hendaknya observasi terhadap masing-masing orang dilakukan dalam situasi
yang relatif sama.
a. Kelebihan
1.
Pengamat mempunyai kemungkinan untuk langsung mencatat
hal-hal, perilaku pertumbuhan, dan sebagainya, sewaktu kejadian tersebut masih
berlaku, atau sewaktu perilaku sedang terjadi sehingga pengamat tidak
menggantungkan data-data dari ingatan seseorang.
2.
Pengamatan dapat memperoleh data dan subjek, baik
dengan berkomunikasi verbal ataupun tidak, misalnya dalam melakukan penelitian.
Sering subjek tidak mau berkomunikasi secara verbal dengan peneliti karena
takut, tidak punya waktu atau enggan. Namun, hal ini dapat diatasi dengan
adanya pengamatan (observasi) langsung.
b. Kelemahan
1. Memerlukan
waktu yang relatif lama untuk memperoleh pengamatan langsung terhadap satu
kejadian, misalnya adat penguburan suku Toraja dalam peristiwa ritual kematian,
maka seorang peneliti harus menunggu adanya upacara adat tersebut.
2. Pengamat
biasanya tidak dapat melakukan terhadap suatu fenomena yang berlangsung lama,
contohnya kita ingin mengamati fenomena perubahan suatu masyarakat tradisional
menjadi masyarakat modern, akan sulit atau tidak mungkin dilakukan.
3. Adanya
kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diamati, misalnya kegiatan-kegiatan yang
berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti kita ingin mengetahui
perilaku anak saat orang tua sedang bertengkar, kita tidak mungkin melakukan
pengamatan langsung terhadap konflik keluarga tersebut karena kurang jelas.
2.4 PENANGGUNG
JAWAB KEGIATAN
Adapun penanggung jawab kegiatan KKL
BK FKIP UPS tegal adalah ketua program studi Bimbingan dan Konseling.
Penanggung Jawab
:
Nama :
Suriswo, M.Pd
NIP : 12951631967
Jabatan : Ka. Progdi BK FKIP UPS Tegal
2.5 DOSEN PEMBIMBING
Dari kegiatan itu, kita memerlukan dosen
pembimbing untuk memberikan gambaran atau upaya apa sajayang akan kita lakukan
selama mengikuti kegiatan KKL dan tindak lanjutnya. Dosen pembimbing kami
adalah seorang dosen senior BK di UPS Tegal.
Dosen Pembimbing
:
Nama : Sukoco, KW, M.Pd
NIP : 19580107 198503 1 001
Jabatan : Sekretaris Progdi Bimbingan dan
Konseling
2.6 JADWAL
PELAKSANAAN KKL
Rombongan : FKIP
(BK) UPS Tegal
Tujuan : KKL Bali
Tanggal : 18-23 Februari
2012
HARI
KE
|
TANGGAL
|
WAKTU
|
ACARA PERJALANAN
|
TEGAL-DENPASAR
|
|||
01
|
Sabtu,
18 Februari 2012
|
Pk. 20.00
Pk. 21.00
|
Malam hari, semua peserta di
harap berkumpul d tempat yang sudah di tentukan guna penjempuatan bersama.
Berangkat meninggalkan Tegal
menuju ke Pulau Bali.
|
02
|
Minggu, 19
Februari 2012
|
Pk. 04.00
Pk. 07.30
|
Pagi hari
diharap telah tiba di Ngawi, menuju tempat transit dan istirahat sejenak.
Setelah
numpang mandi dan makan pagi bersama, langsung menuju ke Pulau Bali, makan
siang dan malam disajikan diperjalanan.
|
03
|
Senin, 20
Februari 2012
|
Pk. 01.00
Pk. 05.00
Pk. 07.00
Pk. 19.30
|
Pagi dini
hari, diharapakn telah tiba di dermaga fery Ketapang, persiapan penyeberangan
ke Gilimanuk.
Istirahat
sholat subuh diperjalanan.
Setelah
makan pagi bersama, kami ajak anda semua berkunjung ke : Tanah Lot, Tanjung
Benoa ( p.penyu ), Joger, dan pantai Kuta yang indah. Makan siang kami
sajikan di salah satu obyek wisata.
Tiba di
penginapan, makan malam dan istirahat.
|
04
|
Selasa, 21
Februari 2012
|
Pk. 07.30
Pk. 18.30
|
Setelah
makan pagi bersama, kamu ajak anda mengikuti acara KKL ke IKIP PGRI Denpasar.
Setelahselesai diisi dengan acara wisata ke : Hutan Sangeh, Pertenunan Khas
Bali, Pasar Seni Sukawati, dan Pantai Sanur. Makan siang di salah satu obyek
wisata.
Tiba
kembali di penginapan, makan malam dan istirahat.
|
05
|
Rabu, 22
Februari 2012
|
Pk. 07.30
|
Setelah
makan pagi bersama, meninggalkan Denpasar untuk kembali ke Kota Tegal
tercinta dengan terlebih dahulu singgah di obyek wisata Bedugul di ketinggian
±1000 diatas permukaan laut. Kemudian langsung kembali ke Tegal, siang dan
malam diperjalanan. Makan siang dan malam disajikan.
|
06
|
Kamis, 23
Februari 2012
|
Pk. 07.30
Pk. 12.00
|
Pagi hari
istirahat diperjalanan, makan pagi disajikan.
Diharap
telah tiba kembali di kota Tegal tercinta dan kami antar anda semua sampai
pada tempat penjemputan semula.
|
BAB III
HASIL YANG DIPEROLEH
A.
PROSES KONSELING LINTAS BUDAYA
Proses konseling Lintas Budaya yang
disampaikan oleh nara sumber yang bernama Dr.A.A.Ngr. Adiputra, M.Pd bagaimana proses konseling lintas budaya itu
dilakukan dimasyarakat Bali.
Dipandang dari perspektif lintas budaya, situasi
konseling adalah sebuah ‘perjumpaan kultural’ (cultural encounter) antara
konselor dengan klien atau a cultural solution to personal problem solving. Dalam
proses konseling terjadi proses belajar, tranferensi dan kounter-transferensi,
dan saling menilai. Pada keduanya, juga terjadi saling menarik inferensi. Dari
segi konselor, ketepatan inferensi yang kemudian mendasari tindakannya dalam
konseling tergantung pada kemampuan pemahaman secara utuh terhadap klien. Dari
segi klien, ketepatan inferensi merujuk pada pola-pola perilaku yang dimiliki
sebelumnya. Masalah akan timbul manakala ada inkongruensi antara persepsi dan
nilai-nilai yang menjadi referensi kedua belah pihak, dan sumber terjadinya
distorsi yang sangat besar adalah ketidakpekaan konselor terhadap latar
belakang budaya klien.
Kajian
ini akan menjembantani permasalahan tersebut dengan memperhatikan aspek budaya
dalam praktik konseling, yang pada gilirannya akan melahirkan teknik-teknik dan
pendekatan konseling yang berwawasan lintas budaya (cross cultural
counseling).
Dalam mendefinisikan konseling lintas budaya, kita tidak akan dapat lepas
dari istilah konseling dan budaya. Dalam pengertian konseling terdapat empat
elemen pokok yaitu :
1.
Adanya hubungan,
2.
Adanya dua
individu atau lebih,
3.
Adanya proses,
4.
Membantu individu dalam
memecahkan masalah dan membuat keputusan.
Sedangkan dalam pengertian budaya,
ada tiga elemen yaitu:
1.
Merupakan
produk budidaya manusia,
2.
Menentukan
ciri seseorang,
3.
Manusia
tidak akan bisa dipisahkan dari budayanya.
Berdasarkan
pengertian tentang konseling lintas budaya di atas, aspek-aspek yang harus ada
dan diperhatikan dalam konseling lintas budaya adalah sebagai berikut:
1.
Latar belakang budaya yang dimiliki
oleh konselor
2.
Latar belakang budaya yang dimiliki
oleh klien
3.
Asumsi-asumsi terhadap masalah yang
dihadapi selama konseling
4.
Nilai-nilai yang mempengaruhi hubungan
dalam konseling
B.
KARAKTERISTIK
KONSELOR LINTAS BUDAYA
1.
Konselor
lintas Budaya sadar terhadap nilai-nilai pribadi yang dimiliki dan
asumsi-asumsi terbaru tentang prilaku manusia.
Konselor sadar bahwa dia memiliki
nilai-nilai sendiri yang dijunjung tinggi dan akan terus dipertahankan. Disisi
lain, konselor juga menyadari bahwa klien memiliki nilai-nilai dan norma yang
berbeda dengan dirinya. Oleh karena itu, konselor harus bisa menerima
nilai-nilai yang berbeda itu sekaligus mempelajarinya.
2.
Konselor
lintas budaya sadar terhadap karakteristik konseling secara umum.
Konselor memiliki pemahaman yang
cukup mengenai konseling secara umum sehingga akan membantunya dalam
melaksanakan konseling, sebaiknya sadar terhadap pengertian dan kaidah dalam
melaksanakan konseling. Hal ini sangat perlu karena pengertian terhdap kaidah
konseling akan membantu konselor dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh
klien.
3.
Konselor
lintas budaya harus mengetahui pengaruh kesukuan dan mereka mempunyai perhatian
terhadap lingkungannya.
Konselor dalam
melaksanakan tugasnya harus tanggap terhadap perbedaan yang berpotensi untuk
menghambat proses konseling. Terutama yang berkaitan dengan nilai, norma dan
keyakinan yang dimiliki oleh suku agama tertentu. Terelebih apabila konselor
melakukan praktik konseling di Indonesia yang mempunyai lebih dari 357 etnis
dan 5 agama besar serta penganut aliran kepercayaan. Untuk mencegah timbulnya
hambatan tersebut, maka konselor harus mau belajar dan memperhatikan lingkungan
di mana dia melakukan praktik, baik agama maupun budayanya. Dengan mengadakan
perhatian atau observasi, diharapkan konselor dapat mencegah terjadinya
rintangan selama proses konseling.
4.
Konselor
lintas budaya tidak boleh mendorong klien untuk dapat memahami budaya dan nilai-nilai
yang dimiliki konselor.
Untuk hal ini
ada aturan main yang harus ditaati oleh setiap konselor. Konselor mempunyai
kode etik konseling, yang secara tegas menyatakan bahwa konselor tidak boleh
memaksakan kehendaknya kepada klien. Hal ini mengimplikasikan bahwa sekecil
apapun kemauan konselor tidak boleh dipaksakan kepada klien. Klien tidak boleh diintervensi oleh
konselor tanpa persetujuan klien.
5.
Konselor
lintas agama dan budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan
ekletik.
Pendekatan ekletik adalah suatu
pendekatan dalam konseling yang mencoba untuk menggabungkan beberapa pendekatan
dalam konseling untuk membantu memecahkan masalah klien. Penggabungan ini
dilakukan untuk membantu klien yang mempunyai perbedaan gaya dan pandangan
hidup. Untuk itu konselor harus memiliki wawasan keilmuan yang luas.
C. DASAR – DASAR UTAMA KUALITAS PRIBADI
KONSELOR
1.
Congruence
Konselor harus genuine,
integrated, dan whole person dimana ia berusaha menjadi dirinya yang utuh
dalam setiap setting sosial artinya pada saat ia menjadi konselor ia akan mampu
memanfaatkan bagian dari dirinya yang relevan dengan peranannya sebagai
konselor.
2.
Empati
Kemampuan konselor untuk merasakan
apa yang klien rasakan bahkan konselor mampu membayangkan seandainya ia yang
berada pada posisi klien mengakibatkan terciptanya hubungan sosioemosinal yang
dalam dan itu membuat klien dapat bercerita dengan sukarela dan terbuka
mengenai dirinya bahkan yang menjadi rahasinya.
3.
Unconditional
positive regard
Menerima keadaan klien secara utuh
tanpa memberikan penilaian apapun terhadap keberadaan dan prilaku klien.
Konselor berusaha berpikir positif memahami dunia klien apa adanya tanpa adanya
kritikkan yang akan membuat klien membangun mekanisme pertahanan diri yang kuat,
sehingga menciptakan rasa aman yang membuat klien bisa memahami masalahnya
secara utuh.
D.
SEJARAH IKIP PGRI BALI
IKIP PGRI BALI diresmikan pada tanggal 25
Agustus 1983 oleh Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (Alm) sebagai wujud
nyata sebuah sumbangsih dalam ikut melahirkan tenaga pendidik yang berkualitas
dan professional. Kerja keras dan kesungguhan serta dedikasi yang tinggi dari
para pendiri dan seluruh jajarannya, sekarang ini IKIP PGRI Bali telah memiliki
Kampus sendiri masing-masing di Jalan Seroja Tonja dan Jalan Akasia Sumerta.
Fakultas
Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Bali berdiri sejak tahun 1983. Pada saat itu memiliki
dua jurusan yaitu “Bimbingan dan Penyuluhan” (BP) dan PLS. Seiring dengan
perkembangan di bidang psikologi kemudian pada tahun 1987 jurusan Bimbingan dan
Penyuluhan berganti nama menjadi jurusan “Psikologi Pendidikan dan Bimbingan”.
Mulai tahun 1997 jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan berganti nama lagi
sesuai dengan bidang bimbingan dan istilah konseling memiliki makna unik, maka
istilah penyuluhan ditinggalkan dan diganti dengan istilah konseling. Dengan
demikian, sejak tahun 1997 sampai sekarang jurusan “Bimbingan dan Konseling”
tidak mengalami perubahan lagi.
FIP IKIP PGRI BALI, Memiliki dua
Program yakni:
·
Program
Akta Mengajar IV (Consecutive Model) Surat Dirjen Dikti Nomor: 1704/D/T/2002, tertanggal 14
Agustus 2002
·
Program
DII PGTK SK Dirjen
Dikti No. 3159/D/T/2004, tertanggal 16 Agustus 2004.
Tenaga
Dosen
· FIP IKIP PGRI Bali saat ini memiliki
18 orang Dosen Negeri, yaitu memiliki 1 (satu) orang tenaga Dosen Negeri
bergelar Doktor; 3 (tiga) orang Dosen Negeri sedang menyelesaikan studi S3; 12
( dua belas) orang tenaga Dosen Negeri bergelar Magister; 1 (satu) orang Dosen
Negeri sedang menyelesaikan studi S2; dan 1 (satu) orang tenaga Dosen Negeri
belum menyelesaikan studi S2.
· Dosen Yayasan (YPLP) PT IKIP PGRI
Bali yang dipekerjakan di FIP IKIP PGRI Bali memiliki 15 (lima belas) orang
tenaga Dosen Yayasan, yaitu memiliki 7 (tujuh) orang tenaga Dosen Yayasan
bergelar Magister, dan 8 (delapan) orang tenaga Dosen Yayasan belum
menyelesaikan studi S2,
Visi
Jurusan BK FIP IKIP PGRI Bali adalah
menyiapkan dan membentuk guru pembimbing (konselor) yang professional, mandiri,
santun, bernuansa teknologi (ICT), dan berwawasan budaya.
Misi
·
Menyelenggarakan
pendidikan dan pengajaran berlandaskan falsafah belajar sepanjang hayat
(lifelong learning).
·
Melakukan
survey terhadap permasalahan yang berkembang di masyarakat sebagai bukti
kepedulian terhadap pemecahan masalah social.
·
Melaksanakan
Pengabdian pada Masyarakat sebagai wujud pengenalan profesi Konselor di
tengah-tengah masyarakat.
Tujuan Jurusan BK FIP IKIP PGRI Bali
·
Meningkatkan
prestasi akademik mahasiswa,
·
Mengembangkan
wawasan mahasiswa melalui Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM),
·
Mengembangkan
wawasan mahasiswa dalam bermasyarakat melalui PKL,
·
Menjadikan
dosen-dosen jurusan BK memiliki wawasan global dalam mengantarkan mahasiswa
berprestasi, berbudaya, berkepribadian, dan bermasyarakat.
Standar Kompetensi Lulusan Progdi
Bimbingan dan Konseling
Lulusan Program Studi Bimbingan dan
Konseling FIP IKIP PGRI Bali, diharapkan dapat memenuhi standar kompetensi
yaitu: kompetensi Pedagogik, kompetensi Kepribadian, kompetensi Profesional,
dan kompetensi Sosial.
·
Memiliki
kemampuan penguasaan konsep dan praksis pendidikan
·
Memiliki
kesadaran dan komitmen etika professional
·
Penguasaan
terhadap konsep prilaku dan perkembangan individu
·
Penguasaan
konsep dan praksis assismen
·
Penguasaan
konsep dan praksis bimbingan dan konseling
·
Memiliki
kemampuan pengelolaan program bimbingan dan konseling
·
Penguasaan
konsep dan praksis riset dalam bimbingan dan konseling
Mata Kuliah Pilihan :
1.
Konseling
Anak Berkebutuhan Khusus
2.
Bimbingan
dan Konseling di PENDAS
3.
Konseling
Keterampilan Hidup (Life Skills Counseling)
4.
Konseling
Narkoba dan HIV/AIDS
Kelengkapan Sarana dan Prasarana
·
Satu
Unit Ruang Staf Dekan, Pembantu Dekan I, II, III dan Kaprodi BK
·
Satu
Unit Ruang Dosen dan Perpustakaan FIP IKIP PGRI Bali
·
Satu
Unit Ruang UPT Laboratorium BK
·
Satu
Unit Ruang Laboratorium Micro Teaching
·
Satu
Unit Ruang Praktik Komputer
·
Sepuluh
Unit Ruang Perkuliahan Mahasiswa BK
Keunggulan
·
Pertama,
FIP-IKIP PGRI Bali saat ini memiliki 18 orang Dosen Negeri, yaitu 15 orang
berkualifikasi S-2; 1 orang berkualifikasi S-3; dan 2 orang berkualifikasi S-1.
·
Kedua,
FIP-IKIP PGRI Bali memiliki satu unit fasilitas perkantoran dan perpustakaan
FIP, satu unit ruang untuk dosen, 10 unit ruang perkuliahan, satu unit ruang
olah raga dan kesenian, satu unit ruang laboratorium bimbingan konseling, satu
unit ruang praktik komputer, dan ruang praktik Real Teaching, dan ruang
pembelajaran lainnya.
·
Ketiga,
FIP-IKIP PGRI memiliki kredibilitas yang sangat memadai sebagai penyelenggara
pendidikan tinggi di bidang ilmu pendidikan. Hal ini didasarkan pada hasil
akreditasi terhadap program studi BK. FIP-IKIP PGRI Bali telah terakreditisasi
B berdasarkan Kep. BAN PT. Depdiknas Nomor: 018/BAN-PT/Ak-X/S1/VIII/2007.
·
Keempat,
peningkatan jumlah kemitraan MoU dengan PTN dan PTS; pemerintah Provinsi dan
Kabupaten/Kota; Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota; LSM; media cetak
(Bali Post, Denpost, Radar Bali, dan Jawa post); media elektronik (TVRI, Bali
TV); serta Sekolah Mitra di tingkat Kabupaten dan Kota (SMP Negeri dan Swasta,
SMA/SMK Negeri dan swasta) akan meningkatkan keberagaman citra FIP-IKIP PGRI
Bali.
·
Kelima,
para dosen telah memenangkan penelitian tingkat Nasional, yaitu Penelitian
Hibah Bersaing dua kali berturut-turut yang dibiayai oleh Ditjen Dikti
Depdiknas yakni: cakupan tahun kesatu sesuai dengan surat perjanjian
pelaksanaan Hibah Penelitian Nomor: 262/SP2H/PP/DP2M/III/ 2008 tanggal, 6 Maret
2008 dan cakupan tahun kedua sesuai dengan surat perjanjian pelaksanaan Hibah
Penelitian Nomor: 122/SP2H/PP/DP2M/IV/ 2009 tanggal, 6 April 2009.
·
Keenam,
para dosen telah menghasilkan karya ilmiah inovatif yang dipatenkan yakni: Hak
Cipta “ Buku Pedoman – Model Layanan Bimbingan Keterampilan Hidup (Life Skills
Counseling) Berlandaskan Tri Hita Karana” Nomor: C00201000872 dari Direktur
Jendral HKI melalui Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak
Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang di Jakarta.
·
Ketujuh,
para dosen telah banyak menulis dalam Majalah Ilmiah “Widyadari” IKIP PGRI Bali
(ISSN 1907-3232); Majalah Ilmiah “Dinamika Kebudayaan” UNUD (ISSN 1411-1608);
Jurnal Nasional terakreditasi “Mudra Jurnal of Art and Cultural” (Terakreditasi
B dari Dikti, sedang melaksanakan program jurnal Nasional terakreditasi menjadi
jurnal Internasional tahap kedua (Nomor: 23/Dikti/Kep/2005).
a.
STRUKTUR ORGANISASI IKIP PGRI BALI
Pengurus
Yayasan Pembina lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (YPLP PT) IKIP PGRI Bali
Pembina
|
:
|
1. Drs. Dewa Putu Tengah
2. Drs. I Gede Wenten Aryasuda, M.Pd
|
Ketua
|
:
|
Drs. I.Gusti Bagus Arthanegara, S.H,.M.Pd
|
Wakil Ketua
|
:
|
Drs. A.A Gde Priadi
|
Wakil Ketua
|
:
|
Dra. L.Gedong renen
|
Sekretaris
|
:
|
I Gusti Ngurah Oka, S.H
|
Wakil Sekretaris
|
:
|
Drs. I Dewa Putu Juwana, M.Pd
|
Bendahara
|
:
|
Drs. I Made Musna, M.Pd
|
Anggota
|
:
|
1. Drs. Putu Sedana
2. I Nyoman Pastika Arimbawa, Sm,.Hk
|
Pimpinan
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( IKIP ) PGRI Bali
Rektor
|
:
|
Dr. I Made Suarta, S.H,.M.Hum
|
PR I
|
:
|
Drs. Pande Wayan Bawa,M.Si
|
PR II
|
:
|
Drs. I Dewa Putu Juwana, M.Pd
|
PR III
|
:
|
Drs. I.G.B.Ardana Adnya, M.Si
|
Para Dekan di lingkungan IKIP PGRI
Bali :
1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan
(FIP)
Dr. Anak Agung Ngurah Adhiputra, M.Pd |
2. Dekan Fakultas Pendidikan
Bahasa dan Seni (FPBS)
Dr. I Nengah Arnawa, M.Hum |
3. Dekan Fakultas Pendidikan dan
Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS)
Drs. I Dewa Made Alit, M,Pd |
4. Dekan Fakultas Pendidikan Olah
Raga dan Kesehatan (FPOK)
Drs. I Ketut Sumerta, M.For |
5. Dekan Fakultas Pendidikan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA)
Drs. I Wayan Suanda,S.P,.M.Si |






2 komentar:
rumusny bikin org pusing
knp pke rumus jenk?
Posting Komentar