KEHILANGAN
Hari ini aku ga berangkat skul. krna aku sedang sakit. Meski dalam keadaan puasa, biasanya aku bisa bangun pagi. Dan juga bisa sholat subuh. Entah mengapa hari ini aku ga bisa bangun pagi dan sholat subuh.
Sekitar jam 10:30 aku bangun tidur. Kaget bukan kepalang jam bekerku menunjukkan waktu sudah cukup siang. Untungnya sebelum aku ga berangkat skul, aku hubungin tman-tmanku aku klo aku hari ini ga berangkat skul. Tiba-tiba HPku ada pesan masuk. Ku baca pesan dari temenku, mas Gun.
DE SEKARANG KELUAR. MAS TUNGGU. MAS MAU CERITA.
Setengah sadar aku baca sms itu, langsung aku membalasnya.
DE GA BERANGKAT SKUL MAS. . .
Sambil menunggu balasan sms, aku beresin tempat tidur aku yang masih berantakan. HP berdering lagi. Ada balasan sms dari mas Gun.
DE, APRI MENINGGAL. APRI TEMEN KAMU ANAK KRANDON. DIA KECELAKAAN TERTABRAK TRUK WAKTU MAU BERANGKAT SEKOLAH.
Sontak aku kaget baca sms itu. Dan bertanya-tanya. Siapa yang mas Gun maksud? Secepatnya aku membalas.
MAS, DE GA PUNYA TEMEN YANG NAMANYA APRI. DE PUNYANYA TEMEN NAMANYA AMRI ANAK KRANDON.
Semakin penasaran siapa yang orang dimaksud mas Gun itu. Dan mas Gun membalas smsku.
YA DE MAKSUD MAS ITU AMRI. . . .
Tanpa berfikir panjang, aku menjawab :
MAS, DE LAGI GA BECANDA. UDAH SIANG BECANDAAN MULU. GA LUCU TAU. . . . . ! ! ! ! ! !
Ga sabar nunggu balasannya. Akhirnya dibalas juga.
BUAT APA MAS BOONG DE. AMRI MENINGGAL. COBA DE TANYA LUKMAN / NURYADI.
HPku berdering panjang pertanda ada telfon masuk. Tanpa liat siapa yang telfon, aku langsung angkat. Aku yakin itu dari mas Gun. Waktu aku nerima telfon dari mas Gun, tiba-tiba ada telfon masuk. Ternyata itu no HP Lia, sahabat aku di skul. Dan telfon itu aku konferensikan. Yang terdengar dari telfon itu suara sahabatku di skul, Lia, Ika, dan Yoz.
Salah satu dari mereka bertanya padaku “De, kamu lagi dimana De?”.
“De lagi di rumah. Ko kalian tanya De lagi dimana? Kan kalian tau sendiri klo De lagi ga berangkat skul”Kataku.
Dengan jawaban tegas sahabatku menjawab “De, yang bener De ? ! ! “.
Tanpa basa basi lagi aku menjawab pertanyaan mereka “Demi Allah, De lagi di rumah Li,Ka, Yoz. . . emang kenapa c? Ko kalian tanyanya gitu?”
Diam sejenak merekapun menjawab “Beneran di rumah? Syukur deh. . . ga papa ko De. Cuma mau tanya aja”.
Di situ meski aku dalam keadaan menangis dan lemas, aku dan mas Gun menjelaskan bahwa sahabat kita (Amri) meninggal dunia. Dan mereka juga awalnya ga percaya semua itu terjadi.
Setelah percakapan itu selesai, Lia, Ika, Yoz dan temen-temen yang lainnya bergegas pulang dan menuju rumah tinggalnya Amri. Kebetulan pas hari itu semua siswa kelas 3 dibubarkan pulang.
Dari semua cerita yang aku dengar itu, seketika aku kembali menangis lagi. Tak henti-hentinya aku menangis hingga saat pemakaman selesai. Dan dengan lemah dan badan berjalan sempoyongan aku bergegas pergi ke kamar mandi. Hampir saja kepalaku terbentur pintu. Selesai mandi, aku kebingungan harus pakai baju apa aku? Fikirku hanya satu. Aku ingin segera sampai ke rumah Amri. Akhirnya dengan memakai baju batik aku pergi ke rumah Amri.
Sesampai di tempat tinggal Amri, saat pa guru melihatku beliau segera menghampiriku dan memarkirkan motorku dan aku langsung berlari masuk rumah Amri. Depan jenazah Amri, aku duduk lemas tak berdaya. Seolah-olah aku seperti kehilangan separuh nyawaku. Tangisanku terdengar depan temen-temenku hingga tetesan air mata tak sanggup terhenti. Yang ku bisa hanya menatap wajah cerah yang tak bernyawa lagi. Ingin mengerti mengapa semua ini terjadi? Aku bertanya pada sahabat-sahabatnya yang mereka juga teman OSIS di sekolah kita. Akhirnya akupun tahu apa penyebab ini semua.
Setelah proses pemandian, pengkafanan, penyolatan, kini tiba saatnya kita semua mengantarkan jenazah di tempat pengistirahatan untuk semua umat manusia yang abadi. Saat semua berlangsung, terdengar suara jeritan tangis dari dalam rumah alm. Amri. Suara tangis itu adalah suara tangisan ibunya alm. Amri. Betapa perihnya jiwa saat berusaha tuk relakan kepergian seseorang yang sangat kita sayangi menghadap sang maha suci.
Tak hanya aku yang merasa kehilangan dia. Kedua orang tuanya, adik-adiknya, saudaranya, teman-temannya, dan sahabat-sahabatnyapun ikut merasa kehilangannya. Apalagi orang yang sangat mencintai dan menyayanginya. Jujur hatiku ini belum bisa mengikhlaskan kepergiannya. Begitu banyak kenangan-kenangan bersama dengannya. Takkan pernah hilang dari fikiran dan hatiku untuk selamanya. Namun semua telah terjadi. Tekadku sekarang, aku mulai bangkit dari semua kesedihanku. Semoga semua ini menjadi hikmah bagi semua makhluk Allah di dunia ini. Amin. . . .






0 komentar:
Posting Komentar